Label

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juli 2012

Padi Rimbun

 :Puisi  Rahma Syukriah

Di rumpun padi rimbun,  
Kami pernah berhadapan

Baru bersua dari waktu sesilam lama
Berhadap pandang
Sungguhpun hati menderu
Rindu merindu

Masih saja berpandangan
Dalam kerlingan pertama senyum terlempar
Kukulum hati didih tak keruan

Ia lempar pandang
Ada rindu bernyawa dan bunga kering kembali memuda
Ia bersuara, merdu mendayu
Dadaku berhenti berdegub

Ketika jarak memisah
Kasihku jauh beda pulau
Ingin kuseret ia menuju kota

Padang, Juni 2011

Minggu, 18 Maret 2012

Di Rentang Jarak




1
 di rentang jarak, aku  mengundang hujan, membingkai tiap tetesannya menjadi lampion kemerlap yang hidup, sebentar saja, lalu aku terbenam pada kedalaman air mata,

di riuh pasar uang, kau menghabiskan sebentuk kejenuhan,
sedang di sini, aku mengemasi sisa-sisa hujan.

apakah mata kita akan menjadi dua pasang mata sunyi meniti buih sepanjang perlintasan asin air mata? Jawaban ini gagap untuk kau jawab.

2 
 ingatkah kau, kita saling bertemu di ruang senja, di kamar pagi, dan bekejaran di ranjang mimpi.

itulah bagi ku, semua pertemuan kita, pada kata duka sekalipun adalah cinta, adalah nafas yang lega, dan aku menemukan usia di sisa jiiwaku sendiri.

Gadis, aku tak hendak bercerita tentang bagaimana ngilunya luka hujan. tapi aku takut mengatakan; janganlah kau terhukum juga oleh cintaku, agar sungai-sungai dalam tak lagi berhulu pada matamu. dab biarlah ia mengaliri lekuk sunyi mataku, 

PKU, 2012

Kamis, 16 Februari 2012

Kisah yang Membangkai


Pernah kutulis untukmu:

“Bila suatu ketika, kita lama tak bertemu,
Tentu bertumpuk rindu di masing-masing”

Seperti malam ini,

ada yang menikam tiba-tiba
ngilu pada patahan kata

mungkin di sana,
kau tidak serupa perempuan penunggu
berkulindan dingin kisah membangkai
segala kasih patut di bingkai,
menggaruk senyum yang tercecer,
di mana kita pernah mengemasnya,

Jika sampai
pada suatu hari kelak,
di mana kita akan bersama
atau pun masing-masing
di sana pelayaran akan dimulai


Pekanbaru, Januari 2012

Sabtu, 04 Februari 2012

Berkecamuk

(puisi)

menyemai damai pilu
menyulam cinta ibu,
mengais percikan rindu
negeri mulai membisu

terbelenggu tajam mata sejarah

angan kian membiru,
berkecamuk dalam waktu

2011

Tabur Bunga

(sastra)

daun-daun luruh di senja itu
memecah sepi pada liang duka
badai berkabar di perang labuh

berlayarlah di hulu jantung
sampai ke perih paling dalam

lewat doa karang di parun laut
lalu orang-orang berladang
menabur bunga

2011

Mengeja Kota

(puisi)



dinda,
suatu senja, aku mengeja nama
ada kota di bibir Bukit Senyum,
pada senggawa matahari dengan tubuh laut
sejurus kemudian,
menggerayangi pandangan hingga pangkal Singapura sana
menelanjangi kerdip kota yang sayup
penuhi sesudut mata,

dinda,
barang se-zarah,  tak sirna di batin
hangat bara padang kita
padang mengembala bunga-bunga
padang kubur...

Untukmu Perantau

(puisi)


sesembahan apa seharusnya kami ujudkan, menanti mu pulang ke halaman,
yang sudah tua menunggu hatimu,
dan bagaimana bisa kita tak sekeras arang,
anak cucumu mengganti gonjong  dan rangkiang rumah gadang kami,
merurutkan buah saluang -rabab yang sering menidurkan kita di padang gembala, ketika buyung belum kaya, dulu,
kami sungguh ragu seribu kali,
setiap tahun saja mulut kami tergagap-gagap mendengar celotehan mu dengan menantumu, kami ternganga,
sawah yang berpiring, serta ladang yang berpetak,
 tidak menanti isi sakumu,
sementara surau kami sudah tua menunggu,
kamu mencabik sirih dan gatok pinang, yang sudah menjadi aneh dalam adat hidup anak cucumu,
lalu, apa sesembahan kami semestinya, menantimu bertahun-tahun.


Payakumbuh, 2010

Malam Takbiran,

(puisi)


aku pilu menggapai gema,
di jelang malam  raya
kumau ku tanggalkan dosa yang terpakai telah lama sekali,
didepan sekali, aku menanti kedatanganMu Tuhan,
sebab besok aku melihat basa-basi dalam diriku,
melihat kelaparan kaki jembatan, kusam wajah jalanan, si kumal berebut Koran bekas di halaman rumah Mu, Tuhan,

malam bergema takbir,
untukMu malam itu, bagiku dingin menusuk kesumsum tulang,
melihat setengah selera untuk bertatap, ada basa-basi dalam diriku,
seribu umatmu bergembira petasan dijalan raya,
seribu saudaraku besedih gas tiga kilo di kuburan,
sejuta umatMu bersorak takbir dari baju-baju barunya,
seratusribu jiwa keluargaku merintih minta-minta di jalan-jalan raya,
malam takbiran aku rindu menikam gema, kedalam hatiku,

Payakumbuh, 2010




Sabtu, 21 Januari 2012

Laut Sebotol Fanta Merah


di bibir laut yang kau sebut pantai,
ada riak menggetarkan jantung, menghenyak ubun –ubun, dalam igau, pada jingga di ujung laut petang hari:

Kepantailah,
ada riak menepis sejumput ciuman di bibir pasir,

kepantailah,
aku tungggu cinta dalam selaksa rona merah,
di laut yang sebotol fanta merah,

;kepantai lah, kita jaga laut, agar gelombang adalah arisan makna,

kepantailah,
melepuhkan segala hasrat dalam cinta

kita taklukkan pinggang bukit,
kita bersenandung desah, pada bibir yang basah,


aku kepantai,
menjemput seribu patahan bangkai yang melepuh,
menjemput yang hanyut bersama sebotol fanta merah,
menjemput sisa-sisa ciumanmu yang tercecer di bawah atap rumbia,
menjajaki anyir lendir yang menyeruak,

aku ke pantai, kepantai lah, ke pantai

Padang, 2011

Selasa, 17 Januari 2012

Cincin

“Pakailah! lentik jari manismu akan semakin cantik. Aku turut berbahagia atas kado itu,” kataku padanya. Matanya tetap saja merah, pipinya basah, sesekali mendengus karena menahan sedu dan isak. Rambutnya kusut, sudah seharian bermuram durja. Wajahnya pucat pasi, sesuap nasi belum tertelan dari pagi. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Sirah begitu sedih? Jauh-jauh Sekar datang dari kota Bertuah sana, cuma mengantarkan selingkar cincin, tanda perikatan hubungan yang enam bulan lagi akan dilangsungkan kepelaminan. Ya, hanya sebagai tanda, kalau Sirah sudah tak boleh lagi menjalin hubungan dan berpandang-pandangan dengan lelaki lain. Bagi Sirah; jodoh sudah di depan pintu.

Bukankah sedetik sebelum pernikahan, setiap gadis masih “milik bersama”? Akh….

***

Langit gelap, akar-akar kilat bergelayut di angkasa, petir menyambar-nyambar. Sore yang seram itu, nyaris tak seorangpun berani keluar rumah di Pasar Senin Agam. Kecuali Sirah, dia tersandar di dinding bambu belakang rumah. Selendang Bali, hadiah dari saudari kembarnya setahun lalu, melingkar di lehernya. Aku tidak sanggup melihatnya melawan dingin, sendiri pula. Sebagai seorang sahabat dari kecil— rumah kami memang berdekatan—tentu saja aku tidak bisa membiarkan dia berselimut sepi. Pemandangan itu memaksa persendianku bergegas.

Kenakan mantel milik bapak, tak lupa pakai sebo, penutup kepala anti dingin udara, dan menyeret payung milik ibu yang bersandar di balik pintu rumah. Aku berjalan terhuyung-huyung di bawah hujan dan petir yang menggelegar. Jalan tanah sudah becek parah. Jalan-jalan di kampung kami memang begitu dari dulu, tidak pernah dikecap aspal, apalagi beton. Bila hujan lebat begini, lumpur bisa setinggi lutut kami. Aku menghampiri Sirah, ikut duduk di sampingnya, menyandar di dinding yang sama. Angin kian kencang, seakan merobohkan pertahanan tubuhku. Sirah, sedikitpun tak gemetar oleh hujan.

“Ah, hanya hujan lebat. Hadapi dengan gagah berani,” katanya memecah sepi. “Tahukah kau, gadis yang sudah memakai cincin di jari manisnya adalah gadis yang sudah terikat. Perikatan itu harus dipatuhi, kalau tidak, perikatan itu akan mengutukku seumur hidup, aib besar dalam keluarga, cela dari orang banyak. Untuk itu, aku harus menyibukkan diri untuk belajar menjadi istri yang baik dalam menjalani rumah tangga. Setidaknya, persiapan agar suami betah, agar besan tidak menilai jelek, serta perdalam pengetahuan adat.

Kau kan tahu juga, di adat kita Minangkabau ini, perempuan harus bijak, patuh tinggal di rumah, mendidik anak-anak. Sedangkan lelaki mencari nafkah dirantau orang nun jauh entah di mana. Jika memang apa yang tak kuhendaki ini terjadi, si pemberi cincin ini jadi menjadi jodohku , tentu aku bernasib “menunggu”. Supaya tidak cela rumah tangga, anak keturunan jadi cerdik pandai, perempuan penunggu harus banyak belajar, menjadi limpapeh Rumah Gadang jauh-jauh sebelum akad dilangsungkan.”kata-katanya mengalir bak air bah mengamuk.

“Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba bermuram durja seperti ini? Bukankah kau telah lama menjalin hubungan dengan Sekar? Bukankah sudah dua tahun pula lamanya? Bukankah Mak mu dan mamanya telah sama-sama menyetujui? Pemberian cincin, bukankah suatu kemajuan dalam hubungan percintaan, pertanda keseriusan keluarga Sekar yang akan berbesanan dengan keluarga mu? Dan kau, sudah cukup tahu pula, apa yang akan kau lakukan sebelum akad. Bukankah…?”

“Tidak ada sesuatu yang membuat cinta ku jatuh padanya,” dia memotong. “Hanya saja, dua tahun lalu, pada pesta perkawinan sepupunya, aku dikenalkan Mak. Sejak itu, dia mulai tertarik padaku. Aku kira, ketertarikan itu, hanya ketertarikan biasa-biasa saja. Seperti diriku, tertarik atas kebaikan keluarganya, keluhuran budinya, kematangan pekerjaannya, kedewasaan dan kepatuhannya dalam menjalankan kehidupan sesuai adat istiadat. Dia hanya lelaki yang menjalankan hidup sebagaimana adanya. Tidak lebih dari rutinitas seorang pekerja diperusahaan dengan upah yang sangat memadai. Hidupnya jauh dari kehidupan seorang penyair sunyi semacam aku. Ketertarikan ku, lebih kepada dekatnya persahabatan Mak dengan mamanya. Sama sekali, ketertarikan itu tidak bersenyawa kearah cinta picisan semacam yang kau pahami. Sedang laki-laki yang ku harapkan sebelumnya, sedikitpun tidak memberi tanda-tanda. Selanjutnya, Mago, hubungan kami berjalan sebagaimana adanya. Sebagaimana persahabatan baru dua orang manusia dimulai. Berjalan sewajarnya persahabatan, sebagai warisan sahabat Mak dan mamanya, hingga dua tahun pula lamanya. Dalam pada itu, ternyata Mak dan mamanya, punya rencana yang sama sekali tidak kuduga. Kiranya hubungan kami akan dilangsungkan pada ikatan suami istri. Pun sudah menjadi kesepakatan Mak dan mamanya.

Mago, sungguh aku tahu, pertunangan sangatlah mengikat. Apabila seorang perempuan sudah di pinang oleh laki-laki—sebagaimana kebiasaan orang kita, bertukar cincin—maka sudah haram kalau perempuan itu menikah dengan yang lain. Kecuali, pinangan dibatalkan, dan pihak perempuan membayar denda dua kali lipat biaya pinangan yang ditanggung pihak lelaki. Cincin yang terpaksa ku pakai ini membuat hatiku lebih bergemuruh, berdentang-dentang. Detak jantungku jauh lebih menakutkan dari bunyi petir dan akar-akar kilat yang bergelantungan di langit yang gelap itu. Kadang-kadang terasa disayat-sayat, ngilu.” Kata-katanya terus berhamburan dari bibir yang pucat, namun matanya tetap tajam menatap kedepan, tanpa menatap wajahku sedikitpun.

“Sirah, aku belum paham benar apa yang membuat kau dicabik-cabik seperti ini? Apa Sekar memang meminangmu, dan pemberian cicncin itu adalah tanda pinangannya?

“Aku tidak menganggap ini pinangan menurut agama. Kami tidak pernah bertunangan semacam yang kau anggap. Sekar memberikan cicncin ini kepadaku dalam bentuk kado yang disaksikan Mak dan mamanya. Sudah itu, dia dan mamanya berlalu pulang ke kota. Meski hanya demikian, Mak menganggap ini adalah keseriusan yang tak boleh ditolak. “Sirah, cincin itu adalah simbol pada janji setia sebelum pernikahan. Dan cincin itu sudah menjadi cincin pertunangan kalian. Sekarang, kau telah berada dalam pinangan orang,” begitu kata Mak berulang-ulang. Hatiku ngilu, seperti tersangkut pada sembilu.

“Mago,” katanya. “Menurut agama yang ku pahami, tidak akan berdosa bila melangar janji setia yang Mak maksud itu. Sebabnya, aku tidak berada dalam pinangan Sekar. Barangkali, Sekar mencintaiku, tapi sama sekali aku tidak paham tentang itu. Tidak, aku hanya diberi hadiah, itu saja. Tapi, aku merasa sangat berdosa kepada Mak, bila menolak ini. Mak sangat harap Mago, karena bagi Mak, menjaga hubungan baik dengan keluarga Sekar yang sudah terjalin sejak nenek-datuk kami, amatlah penting, amatlah beharga. Ikatan kedekatan keluarga kami, bukan dalam soal bisnis dan usaha perdagangan, namun hubungan manusiawi yang terjalin sejak dahulu.

Demi kelangsungan hubungan baik, Mak dan mamanya, memang menganggap kami telah saling mencintai, sehingga rencana perjodohanku dengan Sekar menjadi rencana penting bagi kedua belah pihak. Bila aku menolak, Mak akan dikatakan berkhianat atas janji setia. Aku tak ingin demikian, sunguh. Sementara, pertunangan merupakan masa peralihan antara lamaran dengan pernikahan. Ini bukanlah budaya dan adat istiadat kita, Mago. Pertunangan berawal dari bangsa Romawi, ribuan tahun silam. Akupun tidak paham, kenapa Mak merasakan pemberian cincin itu sudah tunangan, dan aku sudah berada dalam perikatan sebuah pinangan. Pangkal persoalan ini, dalam adat dan budaya kita, sungguh tidak ku pahami. Secara umum, memang dalam pertunangan terdapat tradisi saling memberikan hadiah. Tradisi pertunangan pun berbeda, di India Barat misalnya, pasangan itu saling tukar Anak Angsa, sementara wanita Tiongkok pada awal abad ke-20 dituntut memberikan hadiah yang pas bagi calon suaminya dalam waktu seminggu setelah pertunangan, kalau tidak mau, pernikahannya kandas. Sementara di adat kita, tidak terdapat kata-kata tunangan, kecuali meminang. Sedangkan Sekar, sama sekali tidak meminangku, Mago”.

Aku mengangguk saja, mendengar penjelasan Sirah yang kian dalam saja.

“Kemudian, pertunangan yang panjang pernah menjadi umum dalam tetek bengek pernikahan yang resmi, namun tidak umum bagi orang tua mempertunangkan anaknya hingga beberapa tahun sebelum pasangan yang bertunangan itu cukup umur untuk menikah. Selanjutnya, tidak umum bagi orang tua mempertunangkan anaknya tanpa persetujuan dan cinta”.

Bibir Sirah yang kaku terus saja bergerak, dia tak berhenti berkata. Kali ini, matanya semakin melotot, tangannya mulai bergerak, sementara hujan semakin deras saja. Kami hanya terlindung oleh sedikit atap dapur yang menjorok keluar.

Saya terhenyak ketika dia bilang; “Mago, jemputlah kapak kerumah mu sebentar, aku ingin mencincang kisah ini. Jika kau punya sebilah belati, pinjamlah aku dulu, untuk mengubak hati yang kian terkelupas ini. Sejak sebulan lalu, ku rangkai kata demi kata, ku jadikan bait-bait dalam sajak. Namun, tak pernah runcing menusuk hati Mak,” tangisnya pecah, isak dan sedunya menjadi-jadi. Dia telah karam dalam gelombang cinta, aku genggam tangannya, darahnya serasa membeku.

“Mago,” serak suaranya menyebut namaku. “Menolak keinginan Mak, pantangan benar bagiku sejak kecil. Aku tak sanggup jika tidak memenuhi apa yang diinginkan Mak. Kau tahu bukan? Keluargaku hanya keluarga yang hidup pas-pasan. Mak rela melakukan pekerjaan sekasar apapun demi kami anak-anaknya. Mak selalu penuhi kehendak kami. Tidak sedikitpun Mak menolak apa yang ku inginkan sejak kecil hingga sekarang. Sekarang, Mak sudah cukup ringkih untuk membanting tulang. Perjuangan Mak telah mengantarkanku jadi seorang sarjana, seorang perempuan terpelajar di kampung ini. Mak selalu memberikan hal-hal yang layak bagi ku. Sebagai seorang ibu yang bijaksana, tentu saja Mak memikirkan, agar masa depan ku, pun ditopang oleh kehidupan yang layak, tidak melarat, dan tidak menanggung gelisah karena kebutuhan hidup. Sederhananya, Mak menginginkan agar aku selalu menang dalam setiap perkelahian dalam kehidupan ini. Sekarang, patutkah aku menolak permintaan Mak? Tidak Mago, tidak!

Mago, maukah kau mendengar cerita ku?” katanya seraya mengulum nasib. “Setahun lalu, sudah dalam berhubungan juga dengan Sekar, tiba-tiba sebait puisi hadir dalam layar Ponsel ku, dari nomor yang tak ku kenal. Tapi, dari gaya dan karakter kalimat-kalimatnya, aku menduga-duga, puisi siapa pula yang telah sesat ke layar ponselku itu. Hatiku serasa ditikam oleh kalimat-kalimatnya, runcing benar. Sampai sekarang, puisi itu masih ku simpan, bahkan ku ketik ulang, lalu ku pajang di dinding kamar. Agar setiap kali menjelang tidur , aku bisa membaca bait runcing yang sederhana itu. Setidaknya runcing menusuk hati ku seorang.”

“Perempuan/ dalam hati ini/ terhampar gurun yang tandus/ dan, tak kutemukan sedikit cinta/ di sini jika benar ditakdirkan/ kelak aku jadi pasir/ kuharap kau menanam kaktus di punggungku agar tumbuh sedikit cinta/ sedikit hidup bagi musafir lalu,”

Begitu saja bunyi puisi itu. Hingga Sembilan bulan lamanya, aku mencari siapa yang mengarangnya? Asal kau tahu, penyair itu baru tiga bulan belakangan menemui ku. Persis dan tepat sekali, dialah dugaanku, lelaki yang ku kenal sejak empat tahun lalu, dia pun begitu. Namun, kami tak pernah saling berani untuk membagi rasa kearah cinta. Sampai sekarang, senyawa cinta kami belum bertemu, sedang hati kami saling berpadu. Aku yakin betul, Mago. Pasalnya, dia selalu hadir menjenguk ku, mengguncang hati ku, bahkan dialah yang pertama membuat ku begitu tertusuk. Rasanya Mago, hati ini jatuh.

Mago, bukan nasib yang membuat ku bermuram durja begini. Tapi, kebodohanku melawan penjara cinta atas nama adat dan sopan santun. Sungguh aku perempuan yang lemah, sedikitpun tidak mampu melawan adat dan sopan santun yang sejak lama dianut keluarga. Tahukah kau, lelaki yang membuatku berlayar dalam setiap bait sajaknya, adalah lelaki merdeka yang tak bisa terbelenggu oleh tetek bengek intelektual manapun, partai politik manapun, konsepsi kebudayaan manapun, kecuali pada tambatan Tuhan.

Alangkah merdekanya dia, sajaknya mampu menembus pandang setiap lekukan kotornya sistem negara, adat istiadat, kebudayaan dan bahkan berkesenian. “Jiwa-jiwa pemberontaknya, Kahlil Gibran, telah tumbuh secara alamiah dalam hidupnya. Hanya saja, ketokohan Wardah Hani, perempuan pejuang, tak mengalir dalam darah ku. Entah sudah berapa kali ku tamatkan buku itu. Apa jadinya, sebuah karya besar dari pengarang berkelas dunia, tidak menjadi konsepsi yang mengalir dalam diri ku? Sungguh Mago, aku merasa menjadi perempuan paling lemah. Mago, di mataku, dia sederhana tapi sempurna. Perempuan mana yang tidak tertarik dengan konsepsi hidup dan pemikirannya? Kau tahu? Aku ini penyair sunyi, penyair yang jauh dari gaya hidup abad ini, sehingga penjajal kue di pasar ini menganggap aku perempuan aneh, perempuan yang mengherankan. Sejak lelaki itu tahu, keluarga Sekar tiba-tiba datang memberikan cicncin ini kepada ku. Aku merasa telah di koyak-koyak. Bayangan kehidupan masa depan yang penuh bait-bait puisi seperti telah meninggalkanku, jauh. Sungguh aku tak bisa memberontak kepada Mak. Aku hanya memberontak dalam diri sendiri. Waktu kian tajam menghujam kasih ku dengan lelaki yang dari dulu ku dambakan itu.

Mago, mungkin menurutmu, urusan pertunangan adalah hal biasa, cincin pertanda keterikatan adalah adat istiadat saja. Jenguklah nurani mu barang sejenak untukku Mago, rasakanlah betapa tidak adilnya adat-istiadat kepada ku. Tidak berpihaknya “sopan santun” yang kujalani sejak lama. Sementara, aku masih ingin menjadi perempuan terhormat di sisinya, bukan di sisi Sekar dan keluarganya yang kaya melimpah-limpah itu. Karena bagi ku, sebait puisi mampu menembus-pandang ribuan tahun kedepan adalah harta yang tak ternilai harganya.”

Aku merinding mendengarkan setiap ucapan Sirah. Setiap perkataannya mengesankan pemberontakan. Aku merasakan kengiluan seorang gadis yang jatuh cinta pada bait sajak lelaki merdeka. Dia kuyup, namun matanya tetap tajam mengulum kejamnya hidup yang dia rasakan. Hanya cincin. Dia cabik-cabik oleh cinta.

Senja kian membenam, gemuruh dan petir silang berkabar di angkasa. Hujan semakin lebat saja. Sirah, masih terpaku menatap waktu. Enam bulan, tidaklah waktu yang panjang. Sebentar lagi dirinya akan bersanding dipelaminan demi marwah keluarga. ***

Malin Kundang II



Karatau madang di hulu/Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu/Di rumah baguno balun

Itulah yang dikatakatan mamak setelah dua hari aku dinyatakan lulus dari sekolah. Senja itu, rinai cukup membasahi debu halaman. Sudah sebulan hujan tak turun di kampung kami. Seperti hatiku yang mulai mendingin, sendu dan gelisah. Harus memilih apa, di rumah, menjadi peternak sapi dan ayam kampung milik bapak. Jika senja mulai menyelimuti hari, cepat-cepat datang ke surau, mengajar anak-anak mengaji bersama Angku Datuak, yang sudah puluhan tahun menjadi guru ngaji di surau Tarok, surau kami. Ribuan muridnya pun sudah bertebaran di bumi nusantara ini bahkan sampai keluar negeri, ada yang sudah jadi hakim, jadi politikus, ada yang menjadi dosen di Belanda, ada yang bekerja di pemerintahan provinsi, kabupaten. Wali nagari kami sekarang, juga bekas murid ngaji beliau. Angku Datuak, tetap setia menjadi guru ngaji sampai usianya sesenja ini, tidak berubah kecuali rambut di kepalanya sudah putih warnanya. Sampai hari ini pun, pengganti kesetiaan Angku Datuak kepada surau, untuk mengajarkan anak kemenakan orang kampong sekitar mengaji, belumlah tampak. Aku sendiri, di pandang oleh ninik mamak pelanjut estafet Angku Datuak. Teramatlah berat bagiku. Enggan sekali menjalani hidup rutinitas Angku Datuak dalam abdinya terhadap surau, tempat orang-orang belajar mengaji Al quran,  di kampung kami.

Aku sudah bosan. Sudah sejak SD aku belajar di surau, tidak hanya mengaji Al quran, silek dan randai menjadi permainan biasa. Tidak seperti hari ini, anak- anak hanya mengaji dari magrib sampai  sholat Isa saja. Sudah 12 tahun aku di surau Tarok  ini, mulai dari belajar hingga sekarang dipercayakan Angku Datuak untuk membantunya mengajar. 

Ah, aku tidak tahu harus memilih apa, pergi sama mamak ke pulau Jawa, merantau  mencari uang, bekerja di kedai kelontong milik Cina, seperti yang mamak lakoni sejak usianya masih SLTP dulu, atau tinggal di kampung halaman, membantu ayah di sawah, dan menjadi guru ngaji di surau sebagai pewaris leluhur kesetiaan Angku Datuiak? Ah, keduanya, tidak satupun kehendak hatiku. Apalagi aku seorang juara kelas, mantan ketua OSIS, mantan ketua remaja surau, juara lomba MTQ, banyak piala yang ku dapat. Apalagi, nilai-nilai budaya yang kupahami, seperti dalam pelajaran BAM di MAN, dulu, “sayang ka anak di lacuti, sayang ka kampuang di tinggali”, sejatinya laki-laki minang harus merantau ke negeri jauh untuk mencari pengalaman dan membangun kampung halaman di kemudian hari. Sementara aku, adalah laki-laki yang berdarah minang asli, ayah sukunya Pitopang dan ibuku bersuku Salo. Layaknya seorang laki-laki, aku semestiya sudah memikirkan tanggng jawab, bagaimana membantu adik-adik yang masih sekolah, bagaimana bisa melepaskan bapak dan ibu dari cengkraman kesusasahan hidup yang mereka hadapi, di zaman kapitalis ini.
                                                            ***
Pagi yang masih buta, cericitan anak ayam, lenguhan sapi, kicauan burung- burung sawah, sudah mulai memberi sejuk ke telinga. Aku dan bapak berlomba menuju kandang ayam untuk membuka pintu kandang. Pagi itu, bapak sudah lebih dahulu masuk ke kandang ayam, mengambil baskom tempat mengaduk makanannya. Aku balik kanan, cepat-cepat menuju kandang sapi, memikul rumput yang kusabit pagi kemaren, lalu ku masukkan ke lawak-lawak kandangnya.

“Bagaimana yang dikatakan mamak kamu kemaren?” Tanya bapak yang menghampiriku di kandang sapi. Aku hanya diam, berat untuk menjawab, dan berat pula untuk mengatakan apa yang ku kehendaki sebenarnya. Tidak mungkin ku sampaikan, ya, rasanya tidak memungkinkan sekali, “keluhku dalam hati”. 
Sinar mentari sudah mulai menyengat, pertanda waktu Duha sudah masuk. Aku dan bapak menuju sumur untuk bersih-bersih, setelah itu kami pun masuk kedalam rumah, untuk sarapan pagi. Kali ini, adik-adik libur sekolah, karena tanggal merah, sebuah penghargaan kepada bangsa Tionghoa, dimana hari ini adalah hari raya Imlek. Kampung kelihatan lengang dari penduduk, sebagian mereka ikut melihat perayaan Imlek di kampung Cina, dekat kota Payakumbuh, sekitar 18 KM dari kampung kami. Sedangkan aku, adik-adik, ayah dan ibu di rumah saja. Memang tidak biasa melihat hiburan ke kota. Kami ke kota sekali-sekali saja, jika ada yang perlu untuk di beli.

Tak lama kami bercerita-cerita sambil menikmati sarapan pagi, masakan ibu. Tiba-tiba mamak datang. Ia kami persilahkan masuk, ia pun ikut sarapan pagi bersama kami. Selesai sarapan, mamak mengalihkan cerita, seperti yang telah kuduga. Aku tahu maksud kedatangan mamak pagi itu. Dengan rayu bujuknya, harapan untuk merubah keadaan ekonomi, mamak berusaha meyakinkan kami bagimana aku bisa ikut dengannya merantau ke tanah Jawa, untuk bekerja di toko kelontong milik Cina. 

“Berpikirlah matang-matang Lin, mau jadi apa kamu di kampung ini, kapan lagi kamu membahagiakan bapak ibumu yang sudah tua ini. Tidakkah kau rindu menyekolahkan adik-adikmu, kelak dia bisa menjadi sarjana,”. Banyak sekali celotehan mamak, mulutnya terus berkomat kamit seperti dukun membaca mantra untuk pasiennya. Aku tetap saja dengan kehendak hatiku, sedikitpun tidak tergoda dengannya. Aku semakin tenggelam pada mimpiku , ketika ia menyebut sarjana,. 

Di rumah yang sempit itu, pembicaraan kami semakin serius saja, untuk menceritakan masa depan ku, kata mamak, masa depan keluarga tergantung aku. Ini belum pernah terjadi sebelumnya, suasana tidak seperti biasanya.    

Aku memang harus merantau, aku ingin sekali. Aku bukan tidak berpikir untuk bapak, ibu dan adik-adikku, tapi bukan untuk bekerja di toko kelontong Cina, toko Jawa, atau toko orang Minang sekalipun. Aku ingin menuntut ilmu terlebih dahulu, aku ingin kuliah, kelak aku menjadi seorang sarjana. Seperti buya Hamka, dan sederetan ulama besar yang pergi merantau bukan mencari kekayaan duniawi, mereka mencari ilmu. Beda halnya dengan orang zaman sekarang, pergi merantau hanya untuk mendapatkan kekayaan harta. Pulang kampung sesekali, pas lebaran puasa saja, tidak pula pandai berbahasa Minang, bahasanya sudah melangit, yang sulit kami pahami. 

Mendengar itu mamak menjadi marah, dia naik pitan, dia berkomat-kamit lagi. Mengatakan kuliah itu mahal, sarjanapun menganggur, dan banyak celotehan miringnya tentang kuliah dan sarjana. “Malin, kita harus belajar dengan yang sudah, kamu lihat tetangga kita, si Umar, dia itu sarjana, tapi sekarang kau lihat saja dia menjadi apa, tidak bekerja, miskin, anak istrinya tidak terurus,“ alasan mamak mempengaruhi ku. Tapi entah kenapa, aku membantah mamak, memberikan harapan dan mengemukakan alasan-alasanku. Aku berusaha meyakinkan mereka semua, aku hanya butuh uang masuk dan SPP semester satu saja, setelah itu aku akan cari sendiri. Tapi mamak tetap tidak bisa menerima. “Pikirkanlah matang-matang, kau anak tua, adik-adikmu butuh sekolah, bapak ibumu  sudah tua. Jangan kau menjadi si Malin Kundang untuk ibu bapakmu, untuk mamak, untuk kampung kita, Malin. Banyak orang yang kuliah, bertahun-tahun lamanya, setelah tamat, mereka tidak lagi pandai kesawah, tidak lagi pandai membantu orang tunya, tidak lagi mau meramaikan masjid atau mushala, bahkan mereka tidak patuh pada adat dan agama, mereka telah menjadi malin kundang untuk orang tuanya, untuk kaumya, dan untuk negerinya sendiri. Mamak khawatir, kau terjebak dalam lingkaran yang sama’’, setelah itu mamak pergi begitu saja. Aku diam saja, sepertinya mamak marah besar, padahal dia mau berangkat ke pulau Jawa dua hari lagi. 

Bapak  memang sangat bijaksana, dia berbicara hanya sepatah-dua patah kata, bagai sabda bagi kami. Bapak orangnya begitu, tegar, dan tidak banyak bicara. ,” Malin, tetapkan pilihanmu”, kata bapak meyakinkanku. “Aku benar ingin kuliah pak”, singkat saja aku jawab, mengikuti alur bapak. “Dimana kau ingin kuliah?”. Aku lulus jalur PMDK di Padang, kampus ternama pulau Sumatera. Selama ini memang tak ku kabarkan sama bapak atau ibu. Daftar ulang masih ada waktu sampai seminggu siap libur panjang”, jawab ku.
                                                           ***
Mamak sudah berangkat ke tanah Jawa, dia marah. Dia pulang sebetulnya hanya menjemput ku, sekalian bersilaturrahmi sanak saudara, karib kerabatnya ketika kecil dulu. Sore yang memancarkan warna merah jingga di langit barat, udara yang sejuk, segerombolan burung sawah lewat di atas atap rumah ku. Tiba-tiba, empat orang laki-laki buncit dengan Mobil Kap Biru Tua berhenti di jalan samping rumah. Dia menanyakan bapak. Sebentar saja bapakpun mendatangi mereka, mereka menuju kandang sapi. Induk sapi itu mereka keluarkan dari kandangnya, kemudian mereka naikkan ke mobil itu. Aku terkejut, ternyata bapak menjual induk sapi yang setiap pagi dan sore aku kasih rumput. Sungguh aku tidak tahu rencana bapak seperti ini. Aku cepat-cepat ke sumur, aku sedih. “Malin, Malin,” bapak memanggilku, cepat-cepat ku usap air mataku yang meleleh ke pipi, aku datangi bapak, seolah tidak terjadi apa-apa. Bapak dan ibu tersenyum, seakan memberikan makna yang dalam, senyuman mereka jatuh ke hulu jantung ku, dan mengalir ke hatiku. Mereka tenggelam dalam linangan air mataku. Aku terkurung dalam teduh jiwanya.   
                                                           ***
Hujan yang turun dari malam, masih menyisakan gerimis pagi itu. Jalan tanah di samping rumah, dihiasi becek yang dalamnya hampir selutut. Aku sudah siap dengan tas jenjeng, yang berisi ijazah MAN, baju-baju, kue, gelamai, dan ajik yang sengaja di buatkan ibu sejak seminggu sebelumnya. Aku menuju jalan raya, menunggu bus menuju  ke Padang. Tak lama menunggu “Bahagia” datang, membunyikan klakson panjang, dan berhenti di depan ku. Ku cium tangan bapak dan ibu, ku peluk kedua adikku, aku masuk kedalam bus. Gembira, sedih, hampa, hambar, cemas, hiba, semuanya bercampur. “Bahagia” merek bus jurusan Mudiak Payakumbuh  - Padang. Sopirnya sudah terkenal ngebut, sesekali memencet klakson yang mengejutkan. Kerneknya yang lihai, bergayut di pintu belakang sambil berteriak, “Padang, Padang, Padang, Padang Duduak, Padang duduak”.
                                                          ***
Hari –hari tidak ada yang panjang, begitu singkat, sudah lima semester pula aku menjadi mahasiswa. Sudah  tahun ke tiga aku menyandang almamater bewarna hijau itu, “Demi Kedjajaan Bangsa”, begitu visi besar kami dari kampus itu. Sudah sering pula, aku terbang mewakili almamater itu ke daerah Jawa, Medan, Makasar dan bahkan pernah ke Malaysia. Sudah sepuluh kali lebih pula aku turun aksi demontrasi, sudah sepuluh kali pula aku di usir dosen dari kelas, karena perbedaan pendapat. Sudah lebih dari sepuluh wanita pula yang menjadi pacarku. Bapak, ibu dan dua orang adikku terkadang melintasi hingar-bingar pandanganku. Payakumbuh-Padang, memang tidak sejauh ke pulau Jawa. Tapi pulang kampung hanya sekali-sekali. Pada liburan semester pun hanya 2-3 hari saja. Karena aku terlalu sibuk di kampus, mengurs BEM. Bergelut dengan rekan-rekan aktifis, membicarakan pemerintahan, provinsi, Negara, menghujat pak SBY, anggota DPR, mengkritisi pak Wali Kota, bahkan Barack Obama dan apa saja. Selalu membantah setiap kebijakan rektor. 
Aku memang telah malas pulang kampung, kabar bapak dan ibu hanya di ketahui lewat telpon genggam saja. Malam itu, tiba-tiba telepon genggam ku berbunyi.
”Assalamualikum,”
waalaikum salam. Malin, minggu depan kamu pulang ya, bapak sudah tidak kuat lagi kesawah. Padi kita panen minggu depan,
cepat-cepat ku lihat jadwal kegiatan ku, ah, ternyata minggu besok kosong.
“pak aku minggu besok mau ke Jakarta, ada urusan mahasiswa”.
 Aku terpaksa berbohong, karena aku tidak lagi pandai kesawah, tidak lagi pandai beternak ayam dan sapi. Aku malu, masa aktivis mahasiswa seperti aku mau mengerjakan itu. Andai rekan-rekan mahasiswa ku di BEM tahu, begitu kerjaku di kampung, mau disurukkan kemana muka ku sebagai seorang Presiden Mahasiswa, yang setiap saat bergelut dengan anggota Dewan, Wali Kota, Demonsrasi, masuk TV, dan aku biasanya bekerja dengan komputer, kesawah adalah urusan petani, bukan urusan orang besar, yang di segani di kampus, Akhh..
Padang, 2011


Senin, 16 Januari 2012

Sajak



Bait Rahasia

ada kobar yang nyala, hangat, bara di dada,
aku ingin sebuah, sebuah cinta yang rimbun,
di setiap gagangnya, aku titip buah, buah yang ranum,

kau hadir di alam angan-angan, sejak itu pula aku terkurung
di relung teduh pandangmu, bertumpuk sudah segala harap, pada rindu yang basah

selaksa cinta mu begitu laju, berlayar dari muara, ke laut lepas dalam badan,
 ujung zikir, aku tumpangkan rahasia
: indah, andai kita berlayar dalam batin yang sama,
rahasia itu, belum kita beri nama
Padang, 2011




Mengeja Kota

aku mengeja nama; ada kota di bibir Bukitsenyum,
pada senggawa matahari dengan tubuh laut

sejurus kemudian; menggerayangi pandangan hingga pangkal Singapura sana
menelanjangi kerdip kota yang sayup, penuhi sesudut mata,

dinda,
barang se-zarah,  tak sirna di batin, hangat bara padang kita
padang mengembala bunga-bunga, padang kuburan cerita

dinda,
rantauan ini mengeja sunyi, sedang jantung begitu membakar
decak kagum nyala di dalamnya, asa melambai, menepis pergantian siang
hampir tergelincir disetiap ufuknya, sudut setiap kota
pengejaan kota itu, dinda! ada api dalam sekam,
itulah kau, memilin di hatiku

Batam, 2011




Tabur Bunga

daun-daun luruh di senja itu
memecah sepi pada liang duka
badai berkabar di perang labuh
berlayarlah di hulu jantung
sampai ke perih paling dalam
lewat doa palung laut
lalu orang-orang berladang
menabur bunga

Pekanbaru, 2011






Minggu, 15 Januari 2012

Bengkuang Pasar raya





 “Seperempat cintaku hampir kembali”. Aku berbisik ke telinga Rira. Aku agak lega bisa bercerita panjang dengannya sore tadi di pantai. Ya, aku yakin, bisikku itu pasti disampaikan ke Eca. Meskipun mereka sudah lama berpisah karena pernah berselisih paham di sekolahnya yang lama. Paling tidak, perselisihan mereka sudah berakhir setelah Rira pindah ke  sekolah menengah yang berada di belakang pasar ikan itu. Kabarnya  mereka sudah karib lagi. Aku yakin, yakin sekali, bisikku tadi, pasti sampai.

 “Pasti besok Eca gembira mendengar kaduan Rira”.

Aih, Eca pasti langsung mengajak ku jalan-jalan di pasar raya. Seperti dua hari lalu. Eca menggandeng tangan ku, seharian berkeliling-keliling di pasar raya. Walaupun pada sorenya, aku jadi begitu benci melihat kuda, apalagi bengkuang. Paling tidak,  Eca sudah mengajak ku berjalan di tengah sempitnya los-los pedagang kain.  Setiap melewati los, pedagang selalu ramah, hendak menunjukkan kehebatan jualannya.

 “Ini dari Samarinda, peci ini dari Malaysia” dan banyak lagi-banyak lagi, seperti gemuruh, kadang-kadang tak jelas bunyinya.

Aku dan Eca terus saja berjalan, karena kami memang tidak membeli, ya, hanya jalan-jalan. Eca menarik lenganku, lalu diapitkan tangan kanannya ke bawah ketiakku.  Badan ku terasa sangat besar saat berjalan. Jalan menjadi sempit. Orang-orang hilir mudik . Kami terus saja berjalan seperti itu, berjuang melewati ramainya pengunjung pasar siang itu.

Kami sampai di pasar buah. Pedagang buah sahut bersahutan. Pedagang rambutan berteriak sekuat yang dia bisa. Menandingi teriakan pedagang tomat, apel, dan bengkuang. Soalnya,  rambutan dari Binjai, tempo hari harganya jatuh. Dari Rp 5000 turun menjadi Rp 2500 perkilogramnya.
Masa musim buah-buahan tiba. Isu  bisnis pedagang buah di pasar raya sama hangatnya dengan suhu politik atau pejabat korupsi di ibu kota. Para pedagang saling bersaing untuk menarik minat pengunjung pasar. Mereka berteriak seperti tim kampanye partai politik sedang berorasi. Suaranya dilepas sekuat yang mereka bisa. Sampai kelihatan urat lehernya sebesar kacang panjang.

Durian-durian dari pesisir sudah dua hari masuk pasar raya. Aku merasa mau muntah-muntah karena bau durian yang di bolong tupai begitu menyengat. Lagi pula aku tak suka durian, tak selera. Sedangkan Eca, wuis, pasti hidungnya sudah kembang kempis mencium bau durian sejak tadi. Aku yakin, karena aroma durian bolong, penyakit doyannya seketika, kembuh.

Aku masih ingat. Saat bulan-bulan pertama pacaran dengan Eca, tepatnya dua tahun lalu. Dia mengajakku makan ketan durian di pinggir jalan Ganting. Aku kaget, tiga buah durian, habis dia libas. Sementara aku, kalimpasing menahan sengatan durian yang menurutku aneh dan sangat tidak menyenangkan.

Memang, keluargaku tidak ada yang suka makan durian, kecuali orang tua laki-laki bapak. Ya, kakekku itu, menurut cerita bapak, dulu penggalas durian terkenal di Kota Padang ini. Sampai –sampai, durian jualannya ditawari oleh tentara Belanda. Kata bapak, saat itu Ratu Wilhelmia sedang ngidam durian. Kakek senang sekali berhadapan dengan anak buah ratu Wilhelmia itu. Sampai-sampai, kakek memakai safari empat saku saat berjualan dengan tentara itu.  Padahal biasanya baju itu hanya dipakai kakek saat-saat penting saja. Bapakku ketika itu masih kecil, dia ikut membantu kakek mengangkat durian ke mobil Volkswagen Kombi  anak buah ratu Hindia Belanda itu. Kata bapak, menurut orang-orang berkulit putih, durian jualan kakek rasanya sangat enak, bijinya kecil, isinya putih kekuningan. Sedangkan durian yang dibolong tupai tidak boleh dijual.

 “Itu jatah tetangga,” kata kakek kepada bapak.

Hebatnya, kakek dinobatkan sebagai penjual durian yang berkualitas tinggi, sampai-sampai kakek dapat medali penghargaan dari ratu  Wilhelmia sebagai penjual durian terbaik 1939.

Hah..mengingat cerita kakek dari bapak, aku pikir, aku dan Eca jodoh. Seperti kakek yang suka durian, selalu akrab dengan bapak yang sedikitpun tidak suka durian. Begitu pula dengan aku dan Eca. Eca selalu kembang kempis hidungnya mencium aroma durian, sedangkan aku menjulur lidah ku bila tersengat bau durian. Aku mual, seperti orang hamil tiga bulan. Aku yakin, kami jodoh. Kali ini kenapa Eca tak mendesakku membeli durian? Aih, ini keberuntungan. Selain aku muak dengan durian, uang juga tidak ada. Syukurlah, kali itu Eca baik.

Peruntungan kecocokan kami, tampaknya memang di los pasar buah yang sempit itu. Bukankah Eca juga suka berjalan bergandengan tangan di areal pasar sempit itu? Berdesak-desakkan, seperti orang mendemo  pasar itu beberapa hari lalu. Tapi, pendemo dengan Eca tentu aja berbeda. Eca, sangat senang dengan pasar yang sempit, sedangkan pendemo, menuntut walikota agar pasar dilebarkan. Aku juga memilih sama dengan Eca, suka yang sempit.  Yang lebar, bagi ku dan bagi Eca  suatu yang tidak menyenangkan.

Durian itu semakin menusuk hidung ku. Eca terus saja berjalan melewati pedagang durian yang telah membuatku setengah mabuk darat. Tingkah Eca kali itu lain. Dia menyeret lenganku yang mulai melemah, dengan sigap meluncur ke lorong penjual sepatu bekas, dan terus ke belakang penjual kartu perdana telepon seluler. Mual perutku mulai surut. Eca melepaskan tangannya yang sedari tadi aku kepit. Tangannya basah karena cucuran peluhku. Eca tahu, suhu tubuhku panas sekali. Tanpa banyak basa-basi, dia langsung memesan dua gelas teh poci cincau dingin. Aku duduk dikursi kayu yang hampir patah  di depan penjual bengkuang. Pandanganku berkunang-kunang dan mulai kelam. Wajahku pucat pasi, bibir gemetar hebat seperti mesin pemeras air tebu.

 “Ah, durian memang buah yang paling kejam sedunia,” kataku dalam hati. Eca dengan sigap menyodorkan pipet teh poci cincau dingin ke bibir ku,  telapak tangan kirinya dia tempelkannya dikening ku.

 “Abang kepanasan, ada apa abang?

Aku berusaha tersenyum, karena sudah lama sekali ia tak seperhatian begitu kepadaku, hampir dua bulan. Menurut kabar teman-temannya, Eca sedang dekat dengan seorang lelaki keling berambut keriting pula. Kata Rira tadi sore, nama lelaki itu Oyong. 

Wew wew wew, aku kenal dengan Oyong. Dia memang jauh lebih jelek dari ku.  
Gosip  itulah yang membuat tubuhku sempoyongan selama dua bulan terakhir. Sekolah ku kacau.

Tapi, kali ini Eca terasa baik. Sehari itu rasa cemburu ku tidak lagi menggebu.  Aroma durian bolong mulai hilang dari ku. Mataku mulai normal, karena Eca berada disamping.

 “ Oh tidak apa-apa Eca, abang baik –baik saja”.
“Tapi kenapa abang keringatan?”

 “ Manalah mungkin abang Eca ini lemas,” kataku berusaha semangat. Padahal, aku masih lemas, bau durian memang jahat. Sama jahatnya dengan Oyong yang telah mengelabui Eca.

Hari sudah mulai sore. Bayangan  mulai memanjang arah ketimur. Kali ini, sengatan bau durian benar-benar hilang. Aku mulai bugar. Aku dan Eca pun kembali berjalan. Kelihatan senyum Eca begitu damai. Aku terpaut disimpulnya.

Kami melewati lorong parkiran bendi.  Dari dulu aku tahu kalau Eca suka sekali melihat kuda. Menurutnya, kuda binatang yang paling gagah. Kadang-kadang, aku pun dia katakan bagaikan kuda. Kalau Eca menyebutku kuda yang mengirit kereta kencana, itu sama artinya, aku sedang tampan sekali. Setiap kali Eca menyebutku sama dengan kuda pelari kencang, kuda dari padang sabana, kuda liar dari Bima atau kuda yang meringkik gagah, aku selalu senyum gembira.

Kuda, memang punya cerita panjang, masuk dalam buku-buku sejarah,  hadir dalam riwayat nabi. Mungkin sebab itu juga Eca melambangkan sebuah ketampanan dan kejantanan dengan seekor kuda.

Sementara aku,dari dulu mengumpamakan Eca dengan bengkuang pasar raya. Setiap kali Eca menyebutku kuda binal, aku membalasnya dengan bengkuang pasar raya yang di peram tiga hari.  Pertama kali Eca memang kerinyutan keningnya mendengar panggilan bengkuang diperam. Setelah kujelaskan, bahwa bengkuang itu lambang kecantikan. Khasiatnya banyak sekali. Kata Dr. Valsembick van deventer, bengkuang dapat memutihkan kulit keturunan ratu Wilhelmia. Selain itu, bengkuang sangat cocok untuk perempuan berkulit kuning langsat.

Dalam bayanganku, ratu Wilhelmia, yang pernah memberikan penghargaan kepada kakek puluhan tahun silam, sama cantiknya dengan paras Eca. Hanya saja soal hidung dan warna bola matanya. Tentu saja ratu Wilhelmia, hidungnya lebih mancung dan bola matanya berwarna biru.

Sedangkan Eca, sejak pernah jatuh dari sepeda ketika kecil, batang hidungnya patah. Tentu saja hidung Eca jadi tidak begitu mancung, namun tidak mengurangi kecantikan Eca dalam pandangan ku. Sedangkan bola mata Eca hitam legam, bersemayam dalam bulat matanya. Pandangannya berpendar liar dan tajam. Siapa saja menantang pandangannya, tanpa hitungan menit, akan kalah. Mata Eca sama dengan mata elang mengincar anak ayam. Setidaknya mata kucing jantan di malam hari. Ini pulalah mungkin, si Oyong keriting itu suka pula dengan Eca.

Begitulah Eca, kuberi umpama dengan bengkuang pasar raya diperam tiga hari. Menurut nenek Rostiani, bengkuang bila diperam akan semakin manis. Getahnya semakin hilang. Begitu pula Eca, semakin lama memandangnya, dia seperti bengkuang. Kulitnya putih, alisnya tebal. Ya, persis sekali seperti bengkuang pasar raya. Jika rasanya, manis serasa bengkuang diperam tiga hari.

Selain itu, alasanku mengatakan Eca sama dengan bengkuang, adalah keturunan pihak ibu ku yang selalu mengadang-gadang bengkuang. Pesan ibu dari nenek ibuku kepada turunannya, hormatilah bengkuang. Menurutnya, bengkuang sama dengan perlambang kota kita. Perlambang cantiknya kota Padang ini.

“Suatu saat, bila Padang ini sudah maju, maka akan ada tugu bengkuang terbesar di dunia. Itu diletakkan di tengah kota,” kata nenek ibuku kepada ibu puluhan tahun silam. Justru itu, aku semakin yakin, Eca adalah bengkuang ku. Bukan “bengkuang” si Oyong keling itu.

Pasar raya Padang, semakin sore semakin hiruk saja. Eca memang tidak bisa mengubah kebiasaannya, bila sore ia selalu melihat kuda lama-lama. Kali itu, aku heran, mengapa Eca memandang kuda bendi-bendi itu sedemikian lama?. Apa menurutnya kuda itu sama dengan diriku yang gagah?  Kenapa semakin tajam saja tatapan Eca pada seekor kuda hitam pengirit bendi milik mak Acin itu?. Aku menoleh kebelakang, tak ada bengkuang yang terlihat.  Sudah terlalu jauh dari tempat kami duduk tadi.  Aku turut memandang kuda itu. Ikut menatap kuda itu dalam-dalam, ya persis yang dilakukan Eca.

 Aku terkejut, semakin lama, aku semakin heran, semakin lama dipandang, wajah kuda itu berubah menjadi Oyong. Aku nyaris tak percaya. Setiap kali aku mengulangi memandang wajah kuda, aku lihat, giginya kuning berdempet, sama seperti gigi Oyong. Rambutnya keriting, kulitnya keling, agak tinggi dari aku. Aku tak percaya kenapa kuda itu berubah menjadi Oyong.

Eca semakin larut, wajahnya didekatkannya dengan kuda yang menyerupai Oyong itu. Eca seperti keraksukan, bibirnya mulai gemeter. Setiap getaran menghantarkan kata-kata. “ kau lah kuda binal ku, kuda yang mengirit kereta kenca untuk ku, kau kuda liar Bima yang ku cari, kaulah segalanya, kuda”.

Aku mulai takut, kenapa orang-orang hanya lalu lalang saja. Pasar semakin hiruk saja. Tak ada yang menyelamatkan Eca. Kuda-kuda itu mulai melebar, wajahnya persis seperti wajah Oyong. Kulitnya sama sekali dengan keling Oyong, juga rambutnya, giginya, sama sekali dengan Oyong yang jahat kepada ku.

Aku berlari kencang menuju pedagang bengkuang. Aku meninggalkan Eca yang terus juga  mengeja kata demi kata tak jelas. Aku sampai. Aku juga menatap tajam bengkuang-bengkuang perlambang kecantikan itu. Semakin tajam aku menatap, bengkuang itu pun berubah menjadi wajah Oyong. Aku melihat, setiap bengkuang, sama betul dengan Oyong. Bengkuang itu tersenyum, mencibir, garang, dan banyak lagi. Semakin berubah menjadi Oyong, bengkuang itu semakin lebar. Aku mulai takut. Kuda dan bengkuang berubah seperti setan, dia menyerupai buruknya  wajah Oyong, wajah orang yang telah merenggut Eca dari ku.

Tiba-tiba, pasar raya gelap. Hiruk pikuk. Memekak ketelingaku. Pasar raya melebar, selebar-lebarnya. Pendemo masih banyak berdatangan sore itu, mereka bersorak memekak, seperti gerinda mengasah- batu akik. Aku semakin takut, Eca tak pernah suka dengan yang lebar.

Sore menjelang maghrib itu, semua yang kulihat, sama seperti Oyong yang ku benci. Sedang Eca masih terus memandang kuda. Sebelum malam datang, aku menyeret lengan Eca pulang. Padahal, dia belum puas dengan kuda bendi-bendi di pasar. Aku rasakan, sejak berjalan di pasar raya itu, seperempat cinta ku kembali. Semoga esok, pesan ku disampaikan Rira. Jalan-jalan lagi ke pasar raya, sambil melihat los-los sempit, demontrasi, kuda dan bengkuang.
Padang, Juli 2011