Label

Senin, 18 Juni 2012

Sudah Dipastikan, Penyelesaian Jembatan Siak IV Diundur Tahun Depan


PEKANBARU (VOKAL)-Pembangunan Jembatan Siak IV sudah dipastikan mundur dari rencana awal. Pada perencanaan awal, jembatan tersebut selesai Agustus mendatang terpaksa diundur hingga Maret 2013. Para Komsorsiumnya terdiri dari Perusahaan Hutama Karya dan Was Karya. Pembangunan Jembatan Siak IV ini bersifat Multiyear dari 2008 sampai 2012 tapi dalam pengerjaannya terjadi kemunduran dari kesepakatan awal.

“Kita akui penyelesaian jembatan Siak IV diundur hingga Maret 2013. Padahal sebelumnya target kita 2 minggu menjelang PON. Karena  masih terdapat banyak kendala, terutama pembebasan lahan dan desain jembatan itu,” jelas Ketua Komisi C DPRD Riau,Aziz Zaenal, kepada wartawan di Gedung DPRD Riau, Senin (18/6).


Dikatakan Aziz, pembangunan Jembatan Siak IV tersebut, sedikitnya  menghabiskan dana melebihi Rp 485 miliar. Jumlah tersebut  sudah dianggarkan secara multiyear dalam APBD Riau. Lainnya, akan dibantu APBN sebagai kompensasi dari perhelatan PON XVIII yang dipercayakan kepada Riau sebagai tuan rumah.

Pada tahun 2012 ini, Pemerintah Provinsi (Pemrov) Riau mengalokasikan dana untuk pembangunan Jembatan tersebut sebesar Rp 150 miliar. Sementara itu,  di tahun yang sama pemerintah pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum (PU) juga menganggarkan dana sebesar Rp 245 miliar untuk penyelesaian pembangunan jembatan tersebut.

"secara fisik pembangunannya sudah mencapai 39 persen. Jembatan ini seperti jembatan Barelang, Kepri yang menelan dana hingga Rp 435 Miliar. Adapun dana untuk jembatan ini, diambil dari APBD dan APBN. Untuk APBD sudah menghabiskan anggaran Rp 150 Miliar terhitung APBD 2011 dan 2012, sedangkan untuk APBN, rencananya tahun ini akan cair Rp 245 Miliar dan itu sudah dianggarkan,” katanya lagi.

Selanjutnya, Aziz Zainal yang juga politisi PPP ini menyebutkan panjang jembatan tersebut mencapai 834,10 Meter dengan lebar 18,5 Meter.

"Jembatan tersebut merupakan ikon kota Pekanbaru dan penghubung antara Pekanbaru dengan Dumai. Tentu, kita ingin pembangunannya hingga selesai tidak menuai permasalahan seperti jembatan Siak III. Cukuplah Jembatan Siak III menjadi pelajaran yang berharga bagi kita,” ungkap anggota DPRD Riau Dapil Kampar ini.

 Terang saja dia menyebutkan ke sejumlah wartawan, bahwa Jambatan Siak IV itu jauh berbeda dengan Jembatan Siak III yang banyak dipermasalahkan. Fisik jembatan Siak IV memakai Filar/Kabel Stai dan tidak pakai Hanger. Sementara  di tengah Sungai Siak akan  ada tiang untuk penguat.

 "makanya jembatan ini berbeda dengan Jembatan Siak III. Kita akan usahakan anggaran tidak ditambah lagi. Saya sudah pesankan kepada kontraktor untuk tidak menambah anggaran lagi. Hitung-hitungan saya yang juga seorang kontraktor, anggaran yang sudah ada dapat dikatakan sudah cukup atau tidak akan kurang lagi,” Pungkasnya.


Konsumen Jasmin City Garden Kecewa dengan Developer PT.RDU



PEKANBARU --Konsumen perumahan Jasmin City Garden (JCG) Tampan kecewa dengan developer PT. Riau Deltta Utama (RDU). Pasalnya, selain bangunan yang kurang memuaskan juga terjadinya ancaman keamanan terhadap konsumen. Menindaklanjuti hal tersebut, Konsumen JCG minta pertanggungjawaban pihak Developer PT. RDU.

'Kami sangat kecewa dengan PT. RDU. Sudahlah bangunannya yang banyak bocor keamanan kami juga terganggu. Sejak awal PT. RDU harusnya menutup pintu belakang karena itu bukan akses jalan umum. Namun, pihak RDU tetap saja membuka sehingga kami sering kehilangan dan bahkan adanya penjambretan dalam lokasi JCG. Inikan tidak masuk akal," kata salah seorang konsumen dengan inisial "S" saat dihubungi Harian Vokal, Senin (18/6) siang.

Sebelumnya, puluhan konsumen JCG sudah mendatangi kantor PT. RDU berkali-kali ntuk menuntut hak keamanannya. Terakhir mereka datang menuntut Pengembang tersebut Sabtu, minggu lalu. Salah seoang konsumen JCG dengan inisial 'F', mengatakan bahwa PT. RDU tidak bertanggungjawab. Pasalnya, pada hari Jumat, Pekan lalu konsumen JCG diserang oleh warga karena menutup pintu bagian belakang perumahan. Katanya, nyaris terjadi bentrok karena warga menyerang dengan menggunakan benda tajam.

"banyaknya terjadi kemalingan karena akses bebas keluar masuk masyarakat umum. Oleh karenanya, kami menutup pintu bagian belakang supaya keamanan kami terjamin. Lagi pula, di pekarangan JCG tidak ada akses untuk umum. Namun, kami diserang oleh warga di belakang perumahan karena mereka mengkleim bahwa adanya jalan umum melewati pekarangan kami. Hal ini tentu menjadi tanda tanya bagi kami, kenapa tidak selesai masalah lahan oleh pengembang," terang Yusuf saat diwawancarai Harian Vokal di kantor PT. RDU minggu lalu.

Sementara itu, pihak Developer menjanjikan kepada konsumennya untuk menutup akses jalan bagian belakang hingga akhir bulan ini.

Saat kembali dikonfirmasi oleh Harian Vokal Minggu (17/6), Direktur Operasional PT. RDU, Michael Winardi Tjahjadi tidak mau menjawab persoalan tersebut. Bahkan, dia memarahi dan mengancam wartawan. Kemudian, Humas PT. RDU, Arif kembali membeberkan kalau permasalahan konsumen JCG dengan Developer PT RDU akan diselesaikan. Dikatakannya, pihaknya berjanji akan menyelesaikan hingga akhir bulan Juni ini.Menanggapi hal tersebut, Yusuf yang juga salah seorang konsumen JCG mengancam pihak PT. RDU. Sampai akhir bulan ini, yang terhitung selama 12 hari, kalau developer PT. RDU tidak melaksanakan janji, Yusuf akan mengadukan ke pihak polisi.

"Nyawa kami sudah terancam sejak beberapa bulan lalu. Jika tidak ada tanggungjawab dari pengembang, kami akan ajukan permasalahan ini ke kepolisian. Kami akan tuntut PT. RDU sampai kepengadilan. Saya juga berpesan, agar PT. RDU bersiap-siap dengan pengacaranya,"tegas Yusuf saat dihubungi Harian Vokal Senin (18/6) siang.

Dikatakan Yusuf, pihaknya sudah pernah menyampaikan ancaman tersebut saat mendatangi kantor PT. RDU minggu lalu. Namun, tidak ada respon dari pihak Developper. (ynl)

Tanggap Kabut Asap Dewan Minta Perda Karhutla Diberlakukan

PEKANBARU --Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pekanbaru memprediksi potensi kebakaran hutan atau lahan di sejumlah wilayah Provinsi Riau akan meningkat, dari klasifikasi rendah menjadi tinggi.Hal ini menjadi perhatian serius DPRD Provinsi Riau. Pasalnya, kebakaran hutan sudah menjadi 'Tamu' tahunan yang tak pernah tuntas hingga kini.

Hal tersebut dikatakan anggota komisi C, DPRD Riau A.Kirjuhari kepada wartawan, Senin (18/6) siang di kantor DPRD Riau.

Dikatakannya, Perda tentang Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) agar segera diberlakukan. Karena, perda tersebut sudah sejak 2008 lalu. Selain itu, dia juga meminta agar Dinas kehutanan dan Dinas Penanggulangan Pencana Alam serta dinas-dinas terkait tanggap dengan fenomena tersebut.

"pembakaran lahan ini tamu tahunan. kita sudah diprotes oleh negara tetangga dengan tuduhan Riau memproduksi asap. kita minta komprehensif lah dinas-dinas terkait. Termasuk juga perda tentang Karhutla yang hingga kini tak jelas juga nasibnya. Jangan terjadi dulu kasus baru diributkan. Upaya pencegahan tidak ada terlihat dari pihak pemrov selama ini," katanya.

Selanjutnya dia juga meminta pusat bertanggungjawab. Karena, selama ini, kata dia, penegakan hukum terkait pembakaran lahan oleh perusahaan -perusahaan besar seperti tumpul. Dia juga menilai, akibat kabut asap, Rokan hilir (Rohil) menjadi korban utama. katanya, Pemprov harus memikirkan hal tersebut.

"Harusnya siapa yang membakar hutan itu ditindak. Itu bukan pembakaran tapi sengaja dibakar. Kita tidak mengatakan aparat hukum lemah dalam soal ini namun memang kenyataannya demikian. Kita belum pernah mendengar, ada yang ditahan akibat membakar hutan secara-besaran. Kecuali, kasus-kasus kecil dengan pembakaran satu atau dua hekare oleh rakyat biasa,"katanya lagi.

Terkait persoalan itu, Sekretaris Komisi C, DPRD Riau, Abu Bakar Siddiq meminta agar perda Karhutla diundangkan ke lembaran Pemprov. Dia menilai, akibat tidak jelasnya nasib Perda Karhutla yang menghabiskan anggaran RP 300 juta lebih di tahun 2008 lalu berakibat kesewenang-wenangan perusahaan membuka lahan dengan cara membakar.

"Padahal dalam Perda tersebut sudah dijelaskan bahwa tidak dibenarkan membuka lahan dengan cara dibakar. Namun, apa alasan pemprov tidak menindaklanjuti Perda tersebut," tanyanya.

Pihaknya juga telah mengadakan pertemuan dengan Banleg, Biro hukum setdaprov Riau serta dinas-dinas terkait untuk membahas perda Karhutla yang diterlantarkan selama 5 tahun. Namun, pertemuan itu, akunya belum menemui titik terang.

"Kelanjutannya tanggal 20 Juni mendatang.  kita harus desak pemprov untuk mengkongkritkan Karhutla ini,"tambahnya.

 Padahal, hasil konsultasi Banleg dengan Kementrian Hukum dan HAM serta direktur pembuat undang-undang memberikan hal yang positif bahwa Karhutla itu sudah bisa dilakukan. Namun, Pemrov seperti melakukan politik pembiaran hingga perda Karhutla belum dimasukkan ke lembaran Pemrov Riau.

"Saya kira ada politik pembiaran yang disengaja oleh pihak Pemprov. Kenapa tidak diundangkan juga dalam lembaran daerah hingga kini, sementara pembakaran hutan terus menjadi sorotan media," katanya.

Lanjut dia, tidak ada alasan pemrov untuk tidak mengundangkan perda tersebut. Kalau ada yang dikeragui pada pasal dan ayatnya, Abu bakar minta agar diadakan uji materil. (ynl)

Minggu, 18 Maret 2012

Gerai Terpadu Indonesia Go To Pekanbaru


Oleh: Mayonal Putra

Untuk membangkitkan kesejahteraan bersama memang  tidak semudah mengumbar janji-janji politis, meski setiap program dan agenda kerja politisi di manapun menyematkan tentang kesejahteraan. Sedangkan, perkembangan perekonomian secara umum di kota-kota berkembang dijajah oleh pemilik modal besar. Menjamurnya supermarket dan mini market dengan brand merek yang sama sudah membunuh usaha kecil warga di pulau Jawa. Berbagai investor retail yang bersifat monopoli, mulai mendesak untuk masuk kota Pekanbaru karena khalayak menilai masyarakat kota kita ini lebih bersifat konsumtif. 

Tak ayal, warung-warung tradisional milik warga bisa dikatakan “mati” akibat franchise mini market yang buka selama 24 jam itu. Untuk pulau Jawa saja, Alfa Mart dan Indo Maret sudah mengantongi lebih 5 ribu minimarket di hampir seluruh kabupaten kota. Monopoli bisnis retail ini membuat sejumlah usaha harian warga yang dikemas secara tradisional keok. Belum lagi super market-super market dari luar negeri yang merambah kota setiap kota maupun kota kabupaten.

Sudah barang pasti Pekanbaru juga menjadi incaran investor untuk mengembangkan bisnis retail. Sebetulnya ini sangat berbahaya. Pertama, perputaran uang dari setiap belanja masyarakat tidak kembali untuk masyarakat setempat. Kedua, usaha rumah tangga—kemasan dan pengelolaan secara tradisional—tidak lagi bisa menjadi penopang hidup mereka. Sementara persaingan kian hari kian buas. Ketiga, selera dan pola hidup masyarakat semakin konsumtif karena dipengaruhi oleh barang-barang brand modern, sementara pendapatan konsumen relatif stagnan. Sadar atau tidak, masyarakat yang sudah lama tinggal di kota ini akan terus tereduksi oleh prilaku bisnis kapitalis. Pertanyaannya, sampai kapan kita hidup sebagai masyarakat konsumtif? Sementara produksi-produksi yang secara tradisional lambat laun terkikis oleh kelompok-kelompok produksi modern. Dan sebagian besar, pekerja/buruh  pada kelompok produksi bermodal biasanya ditempati oleh masyarakat sekitar. Secara kasar, ini lah yang disebut “pembantu di rumah sendiri”. Padahal seharusnya, kesejahteraan harus dicapai secara bersama-sama tanpa mematikan pihak lain.

Gerai Terpadu Indonesia
Meski belum semua masyarakat mendengar istilah “Gerakan Warung Terpadu Indonesia (GTI)”bahkan masih sangat asing ditelinga. Namun, gerakan warung ini sudah mulai merambah Pekanbaru. Survey untuk warung-warung yang telah menjadi sub penyalur LPG 3 kg sedang berlangsung. Karena, dari 310 sub penyalur yang telah mengantongi daftar izin, yang selama ini dikelola oleh konsultan Migas KESDM, PT. Kanta Karya Utama, menjadi target utama dari program GTI. Dari 310 warung—yang nota benenya, warung tradisional—akan direngking, sehingga target warung live dari hasil besutan GTI untuk 2012 ini minimal berjumlah 22 warung. 

Pasalnya, sebanyak 310 sub penyalur yang terdaftar sebagai pangkalan resmi untuk kebutuhan energi gas rumah tangga dan UKM, hampir 90 persen di antaranya adalah warung masyarakat kecil. Sedangkan keuntungan dari penjualan gas tersebut masih dikeluhkan sub penyalur. Untuk satu tabung LPG 3 Kg, pangkalan hanya mendapat untung kurang lebih seribu rupiah. Selanjutnya, karena masih banyaknya pengecer yang tidak terdaftar di sepanjang jalan kota Pekanbaru berpengaruh bagi sub penyalur terdaftar. Pengaruh ini sangat signifikan dari target penjualan hariannya. Rata-rata satu Sub penyalur hanya bisa menjual 15 tabung isi ulang perhari, dengan keuntungan rata-rata 15 ribu per hari.

Program GTI dengan visi untuk membangkitkan kesejahteraan masyarakat dengan pola membina kemandirian kelompok pengguna atau komunitas sekitar warung, adalah wajah baru untuk Pekanbaru. Karena, gerakan ini berusaha membuat jaringan warung seluruh Indonesia dengan mengedepankan potensi UMKM perdaerah. Misalnya, pengelolaan kripik nenas yang selama ini terkesan mempunyai rantai suplaier pendek, melalui gerakan warung terpadu Indonesia bisa dihantarkan keseluruh kabupaten kota di Indonesia yang sudah berjalan program GTI-nya. 

UKM berbasis komunitas
Untuk mengatasi berbagai persoalan, jaringan UMKM di seluruh daerah harus terpola dan terpadu. Hasil produksi UMKM di Pekanbaru harus bisa di pasarkan ke daerah Jawa. Hal ini lah yang sedang dilakukan oleh Gerai Terpadu Indoensia (GTI) melalui gerakan warung terpadu Indonesia, di delapan kabupaten/kota se Indonesia yang salah satunya adalah Pekanbaru. 

Untuk menghadapi persaingan produk yang kian ganas, GTI melakukan pembinaan-pembinaan UMKM dan warung milik masyarakat yang selama ini dikelola secara tradisional dan mulai disingkirkan oleh gaya-gaya pasar modern.  Sebelumnya, kita sebagai masyarakat Pekanbaru terlebih dahulu harus menyadari bahwa masyarakat itu ialah keseluruhan hubungan - hubungan ekonomis, baik produksi maupun konsumsi, yang berasal dari kekuatan-kekuatan produksi ekonomis, yakni teknik dan karya (Marx)

Sedangkan, komunitas/ masyarakat sekitar UMKM atau setidaknya warung bisa menjalani hubungan-hubungan dan interaksi sosial yang mengedepankan kesejahteraan bersama, sehingga setiap belanja kebutuhan masyarakat tidak lagi lari ke pasar-pasar modern, justru di warung sebagai basis kebutuhan masyarakat sekitarnya. Agar perputaran uang tidak jauh-jauh dari masyarakatnya sendiri, secara otomatis produksi dan permintaan masyarakat selalu seimbang. Jika misi GTI ini terwujud di Pekanbaru, dapat dikatakan wajah baru menuju kesejahteraan bersama.

Penulis adalah Pengurus Institute of Social Empowerment and Development (ISED)- Riau
















Di Rentang Jarak




1
 di rentang jarak, aku  mengundang hujan, membingkai tiap tetesannya menjadi lampion kemerlap yang hidup, sebentar saja, lalu aku terbenam pada kedalaman air mata,

di riuh pasar uang, kau menghabiskan sebentuk kejenuhan,
sedang di sini, aku mengemasi sisa-sisa hujan.

apakah mata kita akan menjadi dua pasang mata sunyi meniti buih sepanjang perlintasan asin air mata? Jawaban ini gagap untuk kau jawab.

 ingatkah kau, kita saling bertemu di ruang senja, di kamar pagi, dan bekejaran di ranjang mimpi.

itulah bagi ku, semua pertemuan kita, pada kata duka sekalipun adalah cinta, adalah nafas yang lega, dan aku menemukan usia di sisa jiiwaku sendiri.

Gadis, aku tak hendak bercerita tentang bagaimana ngilunya luka hujan. tapi aku takut mengatakan; janganlah kau terhukum juga oleh cintaku, agar sungai-sungai dalam tak lagi berhulu pada matamu. dab biarlah ia mengaliri lekuk sunyi mataku, 

PKU, 2012

Sabtu, 25 Februari 2012

Warung Komunitas


Oleh: Mayonal Putra/Pekanbaru

Apa jadinya ketika suatu wilayah tidak mempunyai warung, kalau sampai hari ini, kita masih sepakat bahwa warung merupakan tempat berjualan barang harian, makanan dan minuman atau barang kebutuhan lain. Pentingnya keberadaan warung, memang tidak pernah dikonsesuskan, namun dia hidup dan selalu dibutuhkan.
“Warung”, begitu orang-orang di Pulau Jawa menyebutnya. Kalau di Riau, warung disebut Kedai, sedangkan di Sumatera Barat dinamakan Lapau/lepau. Meski nama dan penyebutannya berbeda di hampir setiap daerah, namun fungsi dan maksudnya sama. 

Manusia sebagai kelompok sosial, ternyata telah memberikan arti lebih dari keberadaan warung selama ini. Setidaknya, warung mempunyai fungsi sosial dengan jalinan hubungan emosional masyarakat sekitarnya. Konsepsi hidup bersama yang selaras, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, berlaku dalam adat berwarung masyarakat. Pada setiap daerah ternyata warung juga mempunyai arti dan bentangan sejarah yang berbeda-beda. Sebut saja di perkampungan Melayu dan Minangkabau di Sumatra Indonesia, misalnya. Konon, warung  menjadi pusat informasi bagi masyarakat sekitarnya. Posisi warung di sebuah wilayah boleh dikatakan pokok bagi perkembangan fungsi sosial kemasyarakan. Kabarnya, ketika informasi publik secara moderen belum menyentuh wilayah Melayu Riau dan Minangkabau, kedai atau lepaulah yang menjadi iklim berita perkembangan daerah. Meski hari ini, fungsi sosial dari keberadaan warung tersebut mulai terguras oleh perkembangan peradaban. Hal ini juga pernah saya tulis di Harian Singgalang-Padang: Keberadaan Lapau dalam Masyarakat Minang (Agustus 2011). 

Satu sisi, kita tentu ingin mengembalikan fungsi sosial dari bisnis warung. Bukan mengecilkan arti ketertingggalan pengelolaan dari aspek bisnis termutakhir, warung-warung seperti dulu, kini mulai disulap menjadi market-market indivudual, tanpa mengedepankan konsepsi humanis. Sedangkan, market-market tersebut,  baik skala kecil maupun besar telah merambah di hampir setiap kabupaten kota. Tidak sedikit pula, warung-warung warga yang dikelola secara tradisional menjadi pilihan nomor kemudian, atau hanya semacam jalan alternatif bagi pembelinya. Di mana pelanggan dulu, yang selalu berbagi cerita di warung-warung warga, berbagi informasi antar sesama, tempat memusyawarahkan segala sesuatu untuk kepentingan bersama, tempat pengembangan ide-ide dan kreatifitas, nyaris tidak ditemukan. Patut pula kiranya, kita mempertanyakan, semangat hidup bersama yang dimulai dari warung, kini di mana ada?. Di mana warung semacam kedai kopi yang diceritakan Andrea Hirata dalam Dwilogi Padang Bulan? Di mana warung yang bisa mentolerir pembeli yang bersaku tipis? Nyaris tidak ditemukan lagi. Bahkan, orang pun enggan menyebut warung, namanya sudah mini market, atau toko-toko berbagai merek dengan cara penjualan yang hebat. ‘Warung” seolah-olah menjadi kasta terbawah dari kehidupan berjual beli.

Oleh karenanya, patut kita jenguk konsep-konsep yang melahirkan fungsi sosial pada warung-warung warga. Ide ini tentu harus selaras dan mengimbangi saingan bisnis. Berangkat dari kebutuhan masyarakat pasar dan psikologis zaman, tentu keberadaan warung ideal harus dibubuhi dengan berbagai pertanyaan kritis. Misalnya, bagaimana keberimbangan fungsi sosial masyarakat yang dikoopetasi sebuah warung dengan keuntungan dagang? Menjawab ini, pemetaan untuk mengukur tempat strategis keberadaan warung perlu dipertimbangkan. Karena, warung—hari ini—mesti mengkoopetasi masyarakat terdekat supaya adanya persaingan bisnis yang sehat antar pemilik warung. Kemudian, fasilitas dan jenis barang dagangan. Apa harus menyaingi supermarket atau mini market yang menjamur dan menguasai bisnis barang harian? Tentu tidak harus. Sudah semestinya, ada pasokan berbagai barang sesuai kebutuhan masyarakat yang dikoopetasinya. Selanjutnya, fasilitas yang bisa mengakomodir pelanggan untuk membangun interaksi sosial yang bermanfaat. Kemudian teknologi, seperti wifi, alat pendeteksi harga barang secara moderen dan hal-hal lain menyangkut hidupnya warung secara bisnis dan sosial masyarakat setempat.



Kamis, 16 Februari 2012

Kisah yang Membangkai


Pernah kutulis untukmu:

“Bila suatu ketika, kita lama tak bertemu,
Tentu bertumpuk rindu di masing-masing”

Seperti malam ini,

ada yang menikam tiba-tiba
ngilu pada patahan kata

mungkin di sana,
kau tidak serupa perempuan penunggu
berkulindan dingin kisah membangkai
segala kasih patut di bingkai,
menggaruk senyum yang tercecer,
di mana kita pernah mengemasnya,

Jika sampai
pada suatu hari kelak,
di mana kita akan bersama
atau pun masing-masing
di sana pelayaran akan dimulai


Pekanbaru, Januari 2012

Pertarungan Zainal Berjualan di Jalan Berdebu



PDF
Cetak
Surel


Minggu, 10 Juli 2011 00:44 Harian Haluan
http://www.harianhaluan.com/images/stories/Berita3/100711/penutup.jpgKetika berjalan di sepanjang Jalan Yos Soedarso, Batu Ampar, Batam, mungkin tidak ada terlihat hal  baru dari yang lazimnya. Biasa saja. Paling-paling hanya gumpalan debu yang membuat sesak nafas akibat lori keluar masuk pabrik. Nyaris tidak ada tanda-tanda kehidupan dipinggir jalan berdebu itu.
Sebulan belakangan, ter­nyata hadir suatu peman­dangan yang baru. Lihatlah di kawasan pangkal jalan tersebut, sekitar Yos Soedarso Nomor 6, setiap sore akan ada sepeda motor bebek berbaju merah, parkir di pinggir jalan itu. Sepertinya, orang punya motor itu melawan gumpalan debu dengan ber­jualan.
Hebat sekali bentuknya. Motor sebentuk memakai baju itu bisa terlindung dari cahaya matahari maupun hujan. Be­gitupun dengan debu yang berkepanjangan.  Tidak jauh dari motor berbaju yang di parkir dekat dengan bibir aspal, mungkin berjarak dua meter dari motor berbaju tersebut, terlihat pula seorang bapak-bapak duduk bersandar be­ralaskan karton mi instan di sebuah batang kayu yang cukup rimbun.
Walaupun hampir seluruh hijaunya dedauanan pohon itu menjadi coklat muda akibat polusi hebat berkepanjangan. Namun, lelaki itu tetap ke­lihatan betah memajang jua­lannya di sana. Sambil me­nikmati sensasi sebatang rokok, ditengah kabut  debu yang berhembus tiap sebentar, laki-laki itu tak berhenti berharap; mudah-mudahan ada orang yang mampir.
Zainal, lelaki 39 tahun, asal Lubuk Alung, Padang Pariaman itu, benar-benar seperti mencari sensasi untuk mengais rejeki. Dia meng­hadirkan penutup motor asal Demak di Kota Batam ini lalu menjualnya di tempat yang nyaris tak ada aktivitas pe­rekonomian, berdebu pula, namun banyak juga orang membeli.
Sejak sebulan lalu, setiap harinya, mulai pukul 14.00-18.00, duduk di pinggir jalan sambil memajang tutup motor selalu ia lakoni. Tak ayal, tutup motor yang dijualnya itu sudah se ratusan pcs habis terjual. Sedikitnya, seratusan pcs habis per dua minggu. Luar biasa bukan?
Karena banyak permintaan, untuk bulan ini, Zainal meme­san lebih banyak lagi, mencapai 200 pcs dalam keadaan hutang kepada distributor. Akan bisa dibayar Zainal, jika sudah habis terjual selama ‘mangkal’ di­pinggir jalan penuh debu di Kota Batam. Sama seperti awal bulan dulu, 50 pcs penutup motor yang dipesan, dengan perjanjian bayar di depan kepada distributor yang ada di Demak, ternyata habis terjual.
Ketika dihampiri Haluan Senin (4/7) siang. Mung­kin menurut orang yang tidak memperhatikan dengan baik, kehadiran Zainal di tepi jalan tersebut hanya dianggap biasa. Tidak ada jual beli. Ya, sama sekali tidak terlihat adanya transaksi apa-apa.
“Tidak disangka pula, sudah sebulan, setiap harinya saya menunggu pembeli datang di tempat ini, ternyata rezki tak kemana. Sudah ratusan habis terjual,” ujar bapak satu anak ini.
Dikatakannya, penutup motor ini, juga dijual dengan harga yang cukup miring. Hanya Rp90 ribu dan penutup motor yang pakai resleting dijual dengan harga Rp100 ribu per pcs.
“Jika Anda pandai-pandai menawar, harga akan jatuh atau lebih murah lagi,” ungkap zainal sambil tertawa.
Baju atau penutup motor yang dijual Zainal ini, mem­punyai banyak manfaat. Ketika panas menyengat atau hujan deras, motor anda bisa ditutup. Benda ini sangat efisien untuk melindungi sepeda motor saat di parkir di tempat terbuka. Bahan benda ini sama dengan bahan jas hujan, yakni parasut anti air.
Penutup motor yang dijual Zainal di kawasan berdebu ini, tidak hanya untuk motor bebek. Jenis metik dan motor besar, juga tersedia. Desain masing-masing jenis, sangat disesuaikan dengan bentuk motor. Pe­masangannya pun begitu prak­tis, sedangkan kualitas ba­hannya, bisa dijamin.
Syahrul, kebetulan berhenti dan menawar baju motor yang dijual Zainal. Menurutnya, baju motor tersebut sangat menarik. Pemasangannya pun cukup enteng.
“Bagus sekali untuk me­lindungi motor. Bahannya pun tidak tembus air. Mungkin aku memilih yang warna hi­tam,”ujarnya.
Syahrul juga me­nya­yang­kan, kenapa Zainal men­jual di tempat ini? Kenapa tidak di pasar atau di tempat keramaian lainnya? Padahal, jualan ini adalah satu-satunya dan pertama di Batam.
Sambil tersenyum kecut, perantau Lubuk Alung ini, hanya men­jawab, kalau ia tak punya cukup modal untuk menyewa tempat di pasar atau tempat lain. Sedangkan di pinggir jalan Yos Soedarso tersebut, tidak banyak urusan. Tidak banyak bayaran­nya.
“Di sini rasanya kita tak mengganggu Bang. Lagian, kita kan cuma numpang parkir aja dengan memperlihatkan model jualan kita, tempatnya juga sepi kok. Ya, harapan saya cuma orang yang lalu lalang di jalan ini aja bang. Kalau di pasar, wah, ribet Bang.”
Selain mem­bayar, banyak lagi uru­sannya. Ntar gak jadi-jadi saya jua­lannya,” ujar Zainal sambil tersenyum.

Laporan:  Mayonal Putra